kata pengantar kti
Kamis, 22 Agustus 2013
Kamis, 25 Juli 2013
Senin, 22 Juli 2013
Jumat, 12 Oktober 2012
KTI Gagal Ginjal Akut ( GGA )
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Ginjal mempunyai
peran dan fungsi untuk mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh, mengatur
konsentrasi garam dalam darah, keseimbangan asam basa dalam dara dan ekresi
bahan buangan seperti urea dan sampah nitrogen lain didalam darah. Bila ginjal
tidak mampu bekerja sebagaimana mestinya maka akan timbul masalah kesehatan
yang berkaitan dengan penyakit gagal ginjal kronik.(Chayaningsih, 2009).
Kerusakan ginjal secara permanen dimana fungsi ginjal tidak kembali normal,
cenderung berlanjut menjadi gagal ginjal terminal yang diawali dari terjadinya
gagal ginjal kronik (Cancer Institute,2009)
GGA adalah
penurunan fungsi ginjal mendadak dengan akibat hilangnya kemampuan ginjal untuk
mempertahankan homeostatis tubuh. Gagal ginjal akut juga merupakan suatu
sindrom yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal mendadak dengan akibat
terjadinya penimbunan hasil metabolik penseyawaan nitrogen seperti ureum dan
kreatinin. Dalam diagnosis GGA yaitu terjadinya peningkatan kadar kreatinin
darah secara progesif 0,5 mg/dl per hari. Peningkatan kadar ureum darah adalah
sekitar 10-20 mg/dl per hari kecuali bila terjadi hiperkatabolisme dapat
mencapai 100 mg/dl per hari (Andani, 2010).
Prevalensi
menurut (WHO) memperkirakan bahwa prevalensi gagal ginjal akut lebih dari 356
orang yang mengalami GGA, mortalitas lebih tinggi pada pasien lanjut usia dan
pada pasien dengan kegagalan multiorgan. Di Indonesia kebayakan pasien yang
melewati episode GGA dapat sembuh dengan fungsi ginjal semula dan dapat
melanjutkan hidup seperti biasanya. Namun , 50% kasus memiliki gangguan fungsi
ginjal subklinis atau dapat di temukan bekas luka residual pada biopsy ginjal.
Sekitar 5% pasien tidak pernah kembali fungsi ginjalnya dan membutuhkan fungsi
ginjal jangka panjang dengan dialysis atau transplantasi. Sebagai tambahan 5%
kasus mengalami penurunan GFR progressif, setelah melalui fase awal peyembuhan,
kemungkinan akibat stress hemodynamic dan scleroris glomeruli yang tersisa
(Elfriadi, 2011).
Peneliti
mengungkapkan sebanyak 15% dari populasi penduduk Indonesia yang mengalami
gagal ginjal. Dari angka 15% itu banyak penderita yang mengalami gagal ginjal
akut diprediksi mencapai 1,2% dari total populasi penderita gagal ginjal di
Indonesia yaitu sekitar 104 ribu orang (Suhardjono,2008). Setelah suatu trauma,
atau yang lebih jarang, adanya embolisasi Kristal kolesterol pada pembuluh
darah ginjal (Atheroembolic GGA). Kristal kolesterol tersembut didalam lumen
arteri berukuran kecil atau sedang. Kemudian memicu reaksi sel giant dan reaksi
fibrosis didalam dinding pembuluh darah. Atheroembolic GGA biasanya ireversibel
(Elfriadi,2011).
Bedasarkan hasil
survey data rekam medic di rumah sakit umum Dr.R.M. Djoelham Binjai bahwa
terjadi peningkatan persentase penderita gagal ginjal akut di Poli Rawan Jalan
dari tahun 2008 sampai 2011 yakni sebesar 10%.
Faktor penyebab
secara umum terjadi oleh karena kurangnya pengetahuan tentang gagal ginjal akut
(GGA) sehingga perawatan pada pasien gagal ginjal sering mengalami kegagalan
terutama pengetahuan keluarga tentang cara perawatan pasien yang mengalami GGA
(Elfriadi,2011).
Gagal ginjal
akut terjadi ketika ginjal tiba-tiba tidak mampu untuk menyaring kotoran dari
darah. Gagal ginjal akut dapat terjadi apabila ada kerusakan pada ginjal anda
atau kondisi lain yang menyebabkan aliran darah mengalir lambat menuju ginjal.
Gagal ginjal akut juga dapat terjadi apabila kotoran yang telah tersaring tidak
keluar dari tubuh bersamaan dengan urin.
Melambatnya aliran darah keginjal kondisi yang menyebabkan darah yang menuju ginjal mengalir secara lambatdan menyebabkan gagal ginjal antara lain: Kurang darah pengobatan terhadap tekanan darah serangan jantung penyakit jantung infeksi kerusakan hati nonsteroidal anti-inflammatory drugs.
Melambatnya aliran darah keginjal kondisi yang menyebabkan darah yang menuju ginjal mengalir secara lambatdan menyebabkan gagal ginjal antara lain: Kurang darah pengobatan terhadap tekanan darah serangan jantung penyakit jantung infeksi kerusakan hati nonsteroidal anti-inflammatory drugs.
Dampak dari
gagal ginjal akut berbagai masalah keperawatan yaitu: pernurunan aliran darah
ginjal. Efek merugikan dari perfusi ginjal pada fungsi ginjal sangat jelas.
Karena aliran darah ginjal dalam jumlah yang besar dibutuhkan untuk
mempertahankan fungsi normal ginjal, maka perubahan komposisi urine terjadi
lebih dini bila perfusi ginjal menurun. Bila aliran darah ginjal sangat
terganggu sebagai akibat baik penurunan volume darah efektif, turunnya curah
jantung atau penurunan tekanan darah dibawah 80 mmHg terjadi perubahan
karakteristik yang jelas terjadi pada fungsi ginjal. Kapasitas untuk
otoregulasi sempurna terampau. Laju filtrasi glomerulus (CFG) menurun. Jumlah
cairan tubuler menurun, dan cairan mengalir (Elfriadi,2011).
Gagal ginjal
akut sering tidak mungkin untuk diperkirakan atau dicegah. Tapi anda dapat
mengurangi risiko dengan menjaga kesehatan ginjal. Ikuti petunjuk pada kemasan
obat. Jika anda menggunakan obat tanpa resep yang dijual bebas. Ikuti petunjuk
yang ada pada kemasannya. Menggunakan obat dengan dosis yang terlalu tinggi
dapat meningkatkan risikogagalginjalakut. Ikuti petunjuk dokter. Jika anda
memiliki penyakit ginjal atau kondisi lain yang meningkatkan risiko gagal
ginjal akut, ikuti rekomendasi dokter anda untuk mengontrol kondisi tersebut. Lakukan
teknik pernapasan dengan diagfragma untuk membuat anda lebih tenang. Ketika
anda menghirup napas, biarkan perut anda mengembang. Dan ketika anda membuang
napas makan perut anda secara alami akan berkontraksi. Teknik bernapas seperti
ini juga dapat membantu menenangkan otot bagian perut dan dapat memicu membuat aktifitas
berjalan normal. Mendengarkan musik, membaca, bermain game atau mandi akan
membuat anda rileks.
Dengan demikian
sangat dibutuhkan perawatan pasien gagal ginjal akut di poli rawan jalan,
sehingga peneliti ingin mengetahui ”Gambaran pengetahuan
keluarga tentang perawatan pasien gagal
ginjal akut di poli rawan jalan RSUD Dr.R.M. Djoelham Binjai”.
1.2.
Idenfikasi
Masalah
1.2.1.
Bagaimana gambaran pengetahuan keluarga
tentang perawatan gagal ginjal akut?
1.2.2.
Bagaimana factor penyebab terjadinya
gagal ginjal akut?
1.2.3.
Bagaimana dampak yang diakibatkan dari gagal
ginjal akut (GGA)?
1.2.4.
Bagaimana solusi lain menangani gagal
ginjal akut (GGA)?
1.3.
Pembatasan Masalah
Bagaimana
gambaran pengetahuan keluarga tentang perawatan gagal ginjal akut?
1.4.
Rumusan
Masalah
Bagaimana
Gambaran pengetahuan keluarga pada perawatan pasien Gagal Ginjal Akut di Poli
Rawan Jalan RSUD. Dr.R.M. Djoelham Binjai.
1.5.
Tujuan Peneliti
Untuk
mengetahui gambaran pengetahuan keluarga pada perawatan pasien gagal ginjal
akut di RSUD Dr.R.M. Djoelham Binjai.
1.6.
Manfaat
Penelitian
1.6.1.
Institusi
Pendidikan Keperawatan
Sebagai bahan acuan di pendidikan
khususnya kepada mahasiswa/I keperawatan untuk meningkatkan pengetahuan cara
perawatan pasien dengan gangguan system perkemihan gagal ginjal akut.
1.6.2.
RSUD
Dr.R.M. Djoelham Binjai
Sebagai bahan pembelajaran kepada
petugas pelayanan kesehatan khususnya di bidang keperawatan dalam
memperaktekkan teknik perawatan yang baik dan benar pada penderita dengan gagal
ginjal akut.
1.6.3.
Keluarga
dan Pasien Rumah Sakit
Untuk menambah informasi dan sumber
pengetahuan baik terhadap pasien maupun keluarga tentang perawatan gagal ginjal
akut selama masa rawatan dirumah sakit.
1.6.4.
Peneliti
Selanjutnya
Sebagai bahan refrensi untuk
penelitian selanjutnya tentang perawatan di Poli Rawan Jalan pada pasien gagal
ginjal akut.
BAB
II
KAJIAN
TEORI DAN KERANGKA KONSEP
2.1. Kajian Teori
2.1.1. Konsep Pengetahuan
A. Pengertian Pengetahuan
Pengertian
adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek
melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya) (Notoatmojo,2010).
Pengetahuan adalah semua milik atau
isi pikiran dan merupakan hasil proses usaha manusia untuk tahu (Gazalbah,
2011).
Pengetahuan merupakan khasanah
kekayaan mental. Tiap jenis pengetahuan pada dasarnya menjawab jenis pertanyaan
tertentu yang diajukan (Katika, 2011).
B. Tingkat Pengetahuan
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan hanya
sebagai recal (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati
sesuatu. Misalnya tahu bahwa buah tomat banyak mengandung vitamin C, jamban
adalah tempat membuang air besar, dan lain-lain.
2. Memahami
(Comprehension)
|
7
|
3. Aplikasih
(Application)
Aplikasih diartikan apabila orang
yang telah memahami objek yang di maksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan
prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain. Misalnya seseorang yang
telah paham tentang proses perencanaan, ia harus dapat membuat perencanaan
program kesehatan ditempat dia bekerja atau dimana saja. Orang yang telah paham
metodologi penelitian, ia akan mudah membuat proposal penelitian dimana saja,
dan sebagainya.
4. Analisis
(Analysis)
Analisis ialah
kemampuan seseorang untuk menjabarkan atau memisahkan, kemudian mencari
hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek
yang di ketahui. Misalnya dapat membedakan antara nyamuk aedes aegypti dengan
nyamuk biasa, dapat membuat diagram siklus hidup cacing kremi, dan lain-lain.
5.
Sintesis (Synthesis)
Sintesis
menunjukan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakan dalam satu
hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang di miliki. Dengan
kata lain, sitesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi-formulasi yang telah ada. Misalnya dapat membuat atau meringkas
dengan kata-kata atau kalimat sendiri tentang hal yang telah dibaca atau
didengar, dapat membuat kesimpulan tentang artikel yang telah dibaca.
6.
Evaluasi (Evalution)
Evaluasi
berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilean
terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada
suatu criteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di
masyarakat. Misalnya seseorang anak menderita malnutrisi atau tidak, seseorang
dapat menilai manfaat ikut keluarga berencana dan sebagainya (Notoatmojo,2010).
C. Indikator Pengetahuan
1. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit,
yang meliputi, penyebab penyakit, gejala dan tanda-tanda penyakit, bagaimana
cara pengobatan atau kemana mencari pengobatan, bagaimana cara penularannya,
bagaimana cara pencegahannya termasuk imunisasi dan sebagainya.
2. Pengetahuan tentang cara pemeliharaan
kesehatan dan cara hidup sehat, yang meliputi: jenis-jenis makanan bergizi,
manfaat makanan yang bergizi bagi kesehatan, pentingnya olahraga bagi
kesehatan, penyakit-penyakit atau bahaya merokok, minum-minuman keras, narkoba
dan pentingnya istirahat yang cukup, relaksasi, dan sebagainya bagi kesehatan.
3. Pengetahuan tentang memelihara kesehatan
lingkungan tentang manfaat air bersih, cara-cara pembungan air limbah yang
sehat, termasuk pembungan kotoran yang sehat dan sampah, manfaat pencahayaan
dan penerangan rumah yang sehat, manfaat ventilasi rumah yang sehat dan akibat
polusi bagi kesehatan (Notoatmojo,2010).
2.1.2. Konsep Keluarga
A. Defenisi Keluarga
Keluarga
adalah bagian dari masyarakat, yang merupakan kelompok primer yang diikat suatu
pernikahan, menyelenggarakan hal-hal berkenaan dengan kehidupan berumah tangga
dan pemeliharaan anak (Syafrudin, 2009).
Keluarga adalah unit
terkecil dalam masyarakat yang menjadi penerima asuhan keperawatan (Effendi dan
Makhfudli, 2009).
Keluarga merupakan system yang
terbuka sehingga dapat dipengaruhi oleh supra system yaitu lingkungan (Mubarak,
2006)
B. Struktur Keluarga
1. Partilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri
dari sanak saudara, sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu
disusun melalui jalur garis ayah.
2. Martilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudarah
sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis
ibu.
3. Matrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah istri (Syafrudin, 2009).
C. Peran Dan Serta Keluarga
1. Peran ayah :Mencari nafkah, pendidikan,
perlindungan, dan kepala keluarga.
2.
Peran ibu :Mengurus rumah
tangga, mendidik anak, pelindung, membantu mencari nafkah tambahan keuangan.
3. Peran anak :Melaksanakan
psiko social sesuai tingkat perkembangan baik fisik mental maupun social
(Syafrudin,2009).
D. Fungsi Keluarga
1. Fungsi Biologis
Fungsi dari ayah dan ibu, meneruskan keturunan, memelihara dan
membesarkan anak, memenuhi kebutuhan gizi, dan memelihara dan merawat
kesehatan.
2. Fungsi Psikologis
Bukan dari ayah dan ibu saja, memberikan kasih sayang dan rasa
aman, memberikan perhatian anggota keluarga, membina proses pendewasaan anggota
keluarga, memberikan identitas yang baik.
3. Fungsi Sosiologis
Memberikan sosialisasi pada anak dalam interaksi sosial
diantara anggota keluarga. Membentuk norma dan tingkah laku sesuai dengan
tingkat perkembangan anak. Meneruskan nilai budaya keluarga.
4. Fungsi Pendidikan
Menyekolahkan anak untuk memberikan pendidikan, pengetahuan
ketrampilan, membentuk perilaku sesuai dengan bakat dan niat. Mempersiapkan
anak untuk kehidupan akan dating. Mendidik anak tingkat perkembangan anak.
5. Fungsi Ekonomi
Mencari sumber penghasilan kebutuhan
keluarga. Mengatur penggunaan keuangan. Menabung untuk kebutuhan keluarga.
1.
Fungsi Rekreasi
Memberikan
kesempatan pada anak untuk mengetahui hal-hal yang baru.
2. Fungsi
Religi
Menanamkan rasa keagamaan terhadap anak.
Membiasakan anak mengamalkan ajaran agama sejak kecil.
E. Bentuk-bentuk
keluarga
1)
Nucler
family adalah keluarga inti terdiri dari ayah, ibu, dan
anak.
2)
Extended
family adalah keluarga besar terdiri dari ayah, ibu, dan
anak ditambah kakek dan nenek.
3)
Serial
family adalah keluarga berantai
4)
Single
family adalah keluarga duda dan janda
5)
Composite
family adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami
(Syafrudin, 2009).
2.1.3. Gagal ginjal akut
A. Pengertian gagal ginjal akut
Gagal ginjal akut
merupakan klinis akibat kerusakan metabolitik patologik pada ginjal yang
ditandai dengan penurunan fungsi yang nyata dan cepat serta terjadinya
azotemia. Gagal ginjal akut biasanya disertai oliguria tetapi oliguria tidak
merupakan gejala klinis, secara klinis istilah nerkosis tubulous akut sering
dipakai. (Arifwr,2009).
GGA adalah penurunan
fungsi ginjal mendadak dengan akibat hilangya kemampuan ginjal untuk
mempertahankan homeostatis tubuh. (Andani, 2010)
Gagal ginjal akut (GGA) merupakan suatu sindro, yang ditandai
oleh adanya penurunan drastic pada glomeruler filtration rate (jam sampai
hari), retensi limbah metabolism nitrogen, dan gangguan volume ekstraseluler
dan homeostatis asam-basa. (Elfriadi, 2011)
B. Klasifikasih dan Etiologi GGA
Klasifikasi GGA sekarang ini berdasarkan lokasi yang
menunjukkan abnormalitas yaitu:
a)
Pra Renal yang disebabkan oleh sebab
sistemik seperti dehidrasi berat, pendarahan masif, dimana keadaan ini sangat
menurunkan aliran darah ke ginjal dan tekanan perfusi kapiler glomelurus yang mengakibatkan
penurunan laju filtrasi glomelurus (GFR).
b)
GGA renal atau intrisik, terjadi apabila
ada jejak pada parenkim ginjal sebagai contoh; glomuluronefritis, dan nekrosis
tubular akut.
c)
GGA pasca renal disebabkan oleh
neuropati obstruktif
C. Tanda gejala gagal ginjal akut
Berikut beberapa tanda
atau gejala yang dialami oleh penderita penyakit gagal ginjal akut: produksi urine
menurun, merasa lelah dan gelisah, mual-muntah, penurunan jumlah urine, pingsan
dan koma.
D. Klafikasih dari penyebab GGA ( Gagal Ginjal
Akut)
1.
GGA prarenal disebabkan oleh:
hipovolemia, penurunan cardiac output, gangguan rasio tahanan vascular sistemik
ginjal, hipoperfusi ginjal, dengan gangguan respon autoregulasi ginjal, sindrom
hipervisikositas.
2.
GGA renal disebabkan oleh: obstruksi renovaskuler, penyakit glomerulus, nekrosis
tubular akut, nefritis interstisial, penolakan cangkok ginjal.
3.GGA
pascarenal disebabkan oleh: Ureteral kalkusus, bekuan darah, peluruhan papilla,
kanker, kompresi eksternal
a)
Kandung kemih neurogenik bladder,
hipertrofi prostat, kalkulus, kanker, bekuan darah
b)
Uretra striktur, katup konginetal,
phimosis (Arifwr,2009).
E. Patogenesis dan Patofisiologi
1. GGA
Prarenal
Karena berbagai sebab
diatas volume sirkulasi darah akan menurun, curah jantung menurun, dengan
akibat darah ke kortek ginjal juga menurun, dan laju filtrasi glomelurus
menurun, akan tetapi fungsi reabsorbsi tubulus terhadap air dan garam terus
berlangsung. Oleh karena itu pada GGA prarenal akan di temukan hasil
pemeriksaan osmolaritas urin >300 mOsm/kg dan konsentrasi natrium yang
rendah <20mmol/liter. Serta fraksi ekskresi natrium (<1%). Sebaiknya pada
GGA renal akan terjadi berkebalikan karena reabsorbsi tubulus tidak berfungsi
lagi.
Mekanisme terjadi
hipoperfusi pada ginjal. Peningkatan pelepasan rennin dari
aparatusjukstaglomerulus menyebabkan peningkatan aldosteron, dimana terjadi
peningkatan reabsorbsi di tubulus kolektivus. Penurunan volume cairan ekstrasel
juga akan mengakibatkan pelepasan hormone ADH yang akan berakibat pada peningkatan
absorbs air di medulla dan hasil akhirnya adalah penurunan volume urin dan
penurunan kadar natrium urin.
2. GGA
Renal
Bedasarkan etiologi
penyakit, penyebab GGA renal dapat dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu
kelainan vaskuler, glomerulus, tubulus, interstisal, dan anomaly konginental .
Tubulus ginjal karena merupakan tempat utama penggunaan energi pada ginjal,
mudah mengalami kerusakan bila terjadi iskemia atau karena obat nefrotoksi oleh
karena itu kelainan tubulus akut adalah penyebab tersering dari GGA renal.
Kelainan Tubulus
Bentuk nekrosis tubulus ada dua yaitu:
a)
Akibat zat nefrotoksi misalnya,
merkuriklorida, terjadi kerusakan tubulus sel-sel yang luas tapi membrane basal
tubulus tetap utuh. Sel-sel tubulis yang mengalami nekrosis akan masuk ke lumen
tubulus dan akan menyumbat lumen.
b)
Akibat iskemia, kerusakan lebih distal
dan setempat dengan kerusakan local pada membran basal tubulus. Obstruksi
tubulus oleh sel dan jaringan yang rusak dan pembesaran pasif filtrate tubulus
melalui dinding tubulus yang rusak masuk ke jaringan interstisial.
Kelainan Vaskuler
Kebanyakan kelainan vaskuler ditemukan
pada pasien dengan sindrom hemolitik uremik (SHU). Pada SHU terjadi kerusakan
kapiler glomelurus, biasanya meyertai dari gastroenteristis yang mana
Escherichia coli menyebarkan toksin yang disebut virotoksin yang diabsorbsi di
urus dan mengakibatkan kerusakan endotel, pada SHU terjadi kerusakan endotel
pada glomerulus yang mengakibatkan deposisi thrombus trombosit fibrin
selanjutnya terjadi konsumsi trombosit, kerusakan sel darah merah eritrosit
melalui jarring-jaring fibril dan politerasi kapiler glomelurus yang bias
mengakibatkan mikroangiopati.
3. GGA
Pasca Renal
Hambatan
aliran urin dapat terjadi pada berbagai tingkat dari pelvis renalis hingga
uretra dan dapt merupakan manifestasi dari malformasi konginental, obstruksi
intrinsik dari traktus urinarius dan neurogenik bladder. GGA pasca renal
terjadi ketika obstruksi melibatkan kedua ginjal atau satu ginjal pada orang
satu ginjal.
F. Manifestasi Klini
Pucat (anemia),
penurunan curah urin, edema (garam dan air berlebihan), hepertensi.
G. Komplikasih GGA
Kelebihan beban volume
dengan gagal jantung kongestif dan edema paru, eritmia, perdarahan saluran
cerna yang disebabkan oleh gastritis, kejang-kejang, koma, dan perubahan
prilaku (Andian,2011).
2.1.4. Perawatan Pasien Gagal Ginjal
A. Defenisi
Perawatan
adalah sebuah proses yang berhubungan dengan pencegahan dan manajemen penyakit
dan juga proses stabilisasi mental, fisik, dan rohani melalui pelayanan yang
ditawarkan oleh organisasi, institusi, dan unit professional kedokteran
(Adnan,2009).
Pengetahuan
keluarga tentang kesehatan lingkungan meliputi disini akibat yang ditimbulkan
oleh paparan asap rokok bagi kesehatan pasien gagal ginjal kronis (Muhammad,
2012).
Pengetahuan
keluarga tentang pemeliharaan kesehatan meliputi bahaya makanan berlemak bagi
penderita gagal ginjal kronis, pentingnya olahraga bagi penderita gagal
ginjal akut, bahaya merokok dan minuman keras bagi pasien gagal ginjal akut dan
mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang serta menjaga berat badan
ideal merupakan cara hidup yang sehat bagi pasien gagal ginjal akut (Muhammad, 2012).
Tujuan pengobatan
pada tahap ini adalah untuk meredakan atau memperlambat gangguan fungsi ginjal
progresif.
|
|
2.2
Kerangka Konsep
Kerangka
konsep adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu dengan konsep
lainnya dari masalah yang diteliti. Kerangka konsep ini berguna untuk
menghubungkan atau menjelaskan secara panjang lebar tentang suatu topic yang
akan dibahasn (Setiadi, 2007).
|
Kriteria Perawatan
GGA
1.
Baik
2.
Cukup
3.
Kurang
(Setiadi,2007)
|
|
Pengetahuan
Keluarga Tentang Perawatan GGA
1. Pengetahuan
tentang sakit dan penyakit
2.
Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup
sehat
3. Pengetahuan
tentang memelihara kesehatan lingkungan (Notoadmodjo, 2010)
|
Keterangan:
: Variabel
yang di teliti
:
Hubungan Variabel
Gambar 2.1. Kerangka Konsep Peneliti
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1
Jenis
Penelitian
Penelitian dalam studi ini
mengunakan metode penelitian deskriptif yang bertujuan untuk membuat gambaran
tentang suatu keadaan secara objektif, tentang pengetahuan keluarga dalam
perawatan pasien GGA. (Setiadi,2007).
3.2
Waktu dan Tempat Penelitian
3.2.1
Waktu
Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2012.
3.2.2
Tempat
Penelitian
Penelitian dilakukan di RSUD Dr.R.M Djoelham, alasan
peneliti melakukan penelitian di lokasi ini oleh karena data tentang GGA banyak
di temukan.
3.3
Populasi,
Sampel dan Sampling
3.3.1
Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek peneliti
yang akan diteliti. (Setiadi,2007). Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh keluarga yang dating memeriksa anggota keluarga yang mengalami sakit
GGA ke RSUD. Dr. R.M. Djoelham Binjai.
3.3.2
Sampel
Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang
diteliti dan dianggap mewakili seluru populasi, incidental sampling dengan cara pengambilan sampel yang kebetulan
ada, pada saat penelitian dan bersedia menjadi sampel, besar sampel yang
diambil yaitu sebesar 24 orang penyakit GGA. (Setiadi,2007).
3.4
Tehnik
Pengumpulan Data
Sebelum proses pengumpulan data
dilakukan, tahap awal dalam pengumpulan data adalah melakukan persiapan untuk
kelancaran pelaksanaan penelitian berupa surat izin penelitian dan kepala RSUD.
Dr. R.M. Djoelham Binjai. Selanjutnya peneliti melakukan penjajakan dimana
peneliti ini dilakukan. Selama proses penjajakan ini peneliti melakukan
pendekatan kepada responden guna menjelaskan makna dan guna diberlakukannya
informed consent. Peneliti wajib menjelaskan kepada responden bahwa penelitian
yang dilakukan tidak akan berdampak negative pada fisik dan mental responden
dan kerasiaan responden sangat dijaga. Setelah persyaratan dipenuhi selanjutnya
dilakukan proses pengambilan data dengan memberikan uji test untuk menggali
informasi tentang “Gambaran Pengetahuan Keluarga Pada Perawatan Gagal Ginjal
Akut diruangan poli rawat jalan RSUD.Dr. R.M Djoelham Binjai. Apabila respondet
mengerti peneliti kembali mengumpulkan lembar kuesioner dan memeriksa
kelengkapan kuesioner dan apabila ada yang kurang lengkap, peneliti dapat
menyelesaikannya secepatnya. Jumlah pertanyaan pada uji test sebanyak 15
pertanyaan. Teknik pengumpulan data ada 2 macam yaitu:
a) Data
Primer
Data yang diperoleh dari usaha peneliti itu sendri
misalnya surve yang dilakukan di pukesmas atau data yang diperoleh dari tempat
yang diteliti.
b) Data
sekunder
Data yang diperoleh dari literature-literatur,
misalnya seperti buku ataupun media cetak lainnya (Setiadi, 2007).
c) Data
tersier
Data yang diperoleh dari jurnal penelitian terdahulu.
3.5
Variabel
dan Definisi Operasional
3.5.1
Variabel
Variabel
pada penelitian ini adalah pengetahuan yang diukur melalui indicator yaitu:
pengetahuan tentang sakit dan penyakit, pengetahuan tentang kesehatan
lingkungan, pengetahuan tentang kesehatan lingkungan.
3.5.2
Defenisi
Operasional
1.
Sakit
dan Penyakit
Adalah suatu
keadaan adanya gangguan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan fisik, psikologik
dan sosial secara tepat. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit meliputi
penyebab penyakit, tanda dan gejala, dan cara pengobatan penyakit gagal ginjal
akut.
2.
Pemeliharaan
Kesehatan dan Cara Hidup Sehat
Adalah upaya pelayanan kesehatan yang bersifat
peningkatan kesehatan, pencegahan, pengobatan dan pemulihan kesehatan dengan
melibatkan secara aktif anggota keluarga. Pengetahuan keluarga tentang
pemeliharaan kesehatan meliputi bahaya makanan berlemak bagi kesehatan, pentingnya olahraga bagi
kesehatan, bahaya merokok dan minuman keras bagi pasien gagal ginjal akut dan
mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang serta menjaga berat badan
ideal merupakan cara hidup yang sehat bagi pasien gagal ginjal akut.
3.
Kesehatan
Lingkungan
Adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang
keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dengan lingkungannya untuk
mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia.
Pengetahuan keluarga tentang kesehatan lingkungan meliputi disini akibat yang
ditimbulkan oleh asap rokok bagi kesehatan pasien gagal ginjal kronis (As’adi, 2012).
3.6 Tehnik Pengukuran
Tehnik pengukuran pada setiap variabel adalah dengan
mengajukan 15 butir pernyataan
yaitu 5 pernyataan
untuk tentang sakit penyakit, 5 peryataan
tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat , 5 pernyataan untuk Kesehatan Lingkungan dalam
bentuk koesioner kepada responden dan menggunakan skala guttman yaitu apabila
jawaban responden bernilai benar bernilai 1 sedangkan jawaban salah diberi
nilai 0 dengan menggunakan rumus surgers
(Sudjana,2009).
Range 15 – 0 15
I = = = = 5
K
3 3
Keterangan:
I : Interval
K : Kategori (Jumlah)
Range :
Skor Maxsimal - Skor Minimal
Sedangkan
untuk mengetahui persentasi jawaban responden sesuai dengan kriteria responden dengan rumus determinan
yang dikemukan oleh ircham (2009) sebagai
berikut :
F
P = x 100%
N
Keterangan :
P
= Presentase
F = Jumlah Jawaban Yang Benar
N = Jumlah Soal
Sehingga kriteria jawaban responden dapat disimpulkan melalui
skor dan presentasi jawaban sebagai berikut:
Tabel
3.1 Interval Kategori Pengetahuan
|
No
|
Kategori
|
Skor Jawaban
|
Persentase
|
|
1
|
Baik
|
11-15
|
80-100%
|
|
2
|
Cukup
|
6-10
|
40-60%
|
|
3
|
Kurang
|
0-5
|
0-20%
|
3.7
Tehnik
Analisa Data
Rancangan analisa data hasil penelitian diformulasikan
dengan menempuh langkah-langkah yang dimulai dari :
1. Editing
Adalah memeriksa daftar pernyataan yang telah diserahkan oleh para pengumpul data.
Pemeriksaan daftar pernyataan yang telah
selesai ini dilakukan terhadap kelengkapan jawaban, keterbacaan tulisan dan
relevansi jawaban.
2.
Coding
Mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari para responden
kedalam kategori. Biasanya klasifikasi dilakukan dengan cara memberi tanda /
kode berbentuk
angka pada masing-masing jawaban.
3.
Sorting
Adalah mensortir dengan memilih atau mengelompokkan data
menurut jenis yang dikehendaki.
4.
Entry Data
Jawaban-jawaban yang sudah diberi kode kategori kemudian dimasukkan kedalam bentuk
tabel dengan cara menghitung frekuensi data. Memasukkan data boleh dengan cara
manual atau melalui pengolahan komputer.
5.
Cleaning
Adalah tahap memastikan bahwa seluruh data yang telah
dimasukkan kedalam pengolahan data sudah selesai dengan sebenarnya.(Setiadi,
2007)
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Setelah
dilakukan penelitian dengan judul “Gambaran Pengetahuan Keluarga tentang
Perawatan Gagal Ginjal Akut di ruang Poli Rawan Jalan RSUD. Dr. R.M. Djoelham
Binjai” Periode Mei-Juli 2012 dan hasilnya di sajikan pada tabel berikut:
4.1.1. Data Umum
Tabel
4.1. Distribusi Karakteristik Responden
berdasarkan Umur Di ruang Poli Rawan Jalan RSUD.Dr.R.M Djoelham Binjai Pada Bulan
Mei s/d Juli 2012
|
No
|
Umur
(Tahun)
|
Frekuensi
(f)
|
Persentasi
(%)
|
|
1
|
20-29
|
6
|
25
|
|
2
|
30-39
|
8
|
33,3
|
|
3
|
40-49
|
6
|
25
|
|
4
|
>50
|
4
|
16,7
|
|
Total
|
24
|
100
|
|
Berdasarkan tabel 4.1 diatas dapat disimpulkan bahwa
karakteristik responden berdasarkan umur mayoritas berusia 30-39 tahun sebanyak 8 orang (33,3 %) dan minoritas
berusia >50 tahun sebanyak 4 orang (16,7 %).
Tabel 4.2 Distribusi Karakteristik
Responden berdasarkan Pendidikan Di Ruang Poli Rawan Jalan RSUD Dr.R.M Djoelham
Pada Bulan Mei s/d Juli 2012.
|
No
|
Pendidikan
|
Frekuensi
(f)
|
Persentasi
(%)
|
|
1
|
SD
|
3
|
12,5
|
|
2
|
SMP
|
9
|
37,5
|
|
3
|
SMA
|
7
|
29,7
|
|
4
|
PT
|
5
|
20,3
|
|
Total
|
24
|
100
|
|
Berdasarkan tabel 4.2. diatas dapat disimpulkan bahwa
karakteristik responden berdasarkan Pendidikan mayoritas berpendidikan SMP
sebanyak 9 orang (37,5%) dan minoritas berpendidikan SD sebanyak 3 orang (12,5%).
Tabel
4.3 Distribusi Karakteristik Responden berdasarkan Pekerjaan Di Ruangan Poli
Rawan Jalan RSUD Dr.R.M Djoelham Binjai Pada Bulan Mei s/d Juli 2012
|
No
|
Bedasarkan
Pekerjaan
|
Frekuensi
(f)
|
Persentasi
(%)
|
|
1
|
Wiraswasta
|
16
|
66,7
|
|
2
|
Pedagang
|
3
|
12,5
|
|
3
|
Petani
|
5
|
20,8
|
|
Total
|
24
|
100
|
|
Berdasarkan
tabel 4.3. diatas dapat disimpulkan bahwa karakteristik responden
berdasarkan Pekerjaan mayoritas dari Wiraswasta sebanyak 16 orang (66,7%) dan
minoritas dari Pedagang sebanyak 3 orang (12,5%).
4.1.2. Data Khusus
Tabel
4.4. Distribusi Pengetahuan
Keluarga tentang Perawatan Gagal Ginjal Akut di Ruang RSUD Dr.R.M Djoelham
Binjai Periode Mei s/d Juli 2012 .
|
No
|
Sakit
dan Penyakit
|
Frekuensi
|
%
|
|
1
|
Baik
|
6
|
25
|
|
2
|
Cukup
|
15
|
62,5
|
|
3
|
Kurang
|
3
|
12,5
|
|
Total
|
24
|
100
|
|
Dari tabel 4.4. Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan
bahwa Pengetahuan Keluarga mayoritas responden berpengetahuan cukup sebanyak 15 orang (62,5%), dan minoritas responden berpengetahuan
kurang sebanyak 3 orang (12,5%).
4.2. Pembahasan
Setelah peneliti melakukan penelitian dengan
melakukan pengumpulan data, diantaranya menggunakan data primer, dimana data
dalam hasil penelitian ini diperoleh dari hasil pengukuran, pengamatan, dan
survei secara langsung dari lapangan penelitian. Dan pengumpulan data sekunder
dilakukan melalui studi dokumentasi. Serta melakukan teknik analisa data mulai
dari editing (memeriksa), coding (memberi tanda/kode), sortir, entry data,
cleaning. Maka penulis akan membahas Gambaran Pengetahuan Keluarga tentang
Perawatan Gagal Ginjal Akut di ruang Poli Rawan Jalan RSUD Dr.R.M Djoelham
serta kesenjangan antara teori dengan hasil yang didapatkan peneliti di
lapangan.
Dari hasil
penelitian berdasarkan mayoritas responden berpengetahuan cukup sebanyak 15 orang (62,5%), dan minoritas responden berpengetahuan
kurang sebanyak 3 orang (12,5%). Hal itu disebabkan oleh karena keluarga tidak
berusaha mencari informasi tentang cara perawatan GGA , dan rata – rata pendidikan
keluarga masih kategori rendah.
Hal
ini sesuai dengan teori Notoadmodjo (2007) yaitu bahwa pengetahuan itu
merupakan hasil tahu seseorang setelah melakukan penginderaan terhadap objek
tertentu. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan
atau kognitif merupakan domain penting dalam pembentukan perilaku. Adapun
factor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah, factor usia,
budaya, ekonomi, factor media masa, factor pendidikan,, factor pengalaman, dan
lingkungan
( Meliono, 2007).
BAB V
PENUTUP
5.1.
Kesimpulan
Setelah peneliti melakukan
penelitian tentang “Gambaran Pengetahuan Keluarga tentang Perawatan Gagal
Ginjal Akut di ruang Poli Rawan Jalan RSUD Dr.R.M Djoelham ”, peneliti dapat
mengambil kesimpulan bahwa Dari hasil penelitian berdasarkan mayoritas
responden berpengetahuan cukup sebanyak
15 orang (62,5%), dan minoritas responden berpengetahuan
kurang sebanyak 3 orang (12,5%). Hal itu disebabkan oleh karena keluarga tidak
berusaha mencari informasi tentang cara perawatan GGA , dan rata – rata
pemdidikan keluarga masih kategori rendah.
5.2. Saran
5.2.1.
Institusi
Pendidikan Keperawatan
Hendaknya institusi pendidikan
keperawatan memberikan motivasi kepada mahasiswa/i agar dapat mengembangkan
materi-materi yang diberikan dan bisa mengaplikasikannya di lapangan, khususnya
tentang penyakit gagal ginjal akut. Sehingga mahasiwa/i nantinya bisa menjadi
tenaga perawat yang profesional.
5.2.2.
Pelayanan
Kesehatan
Pelayanan kesehatan agar lebih
mengutamakan penyuluhan-penyuluhan kesehatan tentang penyakit gagal ginjal akut
kepada keluarga maupun klien sehingga
pengetahuan keluarga dan klien pun bertambah.
5.2.3.
Responden
Diharapkan kepada responden dalam hal
ini keluarga pasien gagal ginjal akut agar dapat meningkatkan pengetahuannya tentang
penyakit gagal ginjal akut mulai dari penyebab, tanda dan gejala, dan
pencegahannya dan pengetahuan tentang
kesehatan lingkungan agar dapat terjalin kerjasama antar keluarga pasien
dan tenaga kesehatan.
5.2.4.
Peneliti
Selanjutnya
Diharapkan kepada peneliti selanjutnya
untuk dapat melakukan penelitian yang lebih mendalam lagi yang berhubungan
dengan pengetahuan keluarga tentang perawatan gagal ginjal akut.
Langganan:
Komentar (Atom)