Jumat, 12 Oktober 2012

KTI Gagal Ginjal Akut ( GGA )


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.                  Latar Belakang
Ginjal mempunyai peran dan fungsi untuk mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh, mengatur konsentrasi garam dalam darah, keseimbangan asam basa dalam dara dan ekresi bahan buangan seperti urea dan sampah nitrogen lain didalam darah. Bila ginjal tidak mampu bekerja sebagaimana mestinya maka akan timbul masalah kesehatan yang berkaitan dengan penyakit gagal ginjal kronik.(Chayaningsih, 2009). Kerusakan ginjal secara permanen dimana fungsi ginjal tidak kembali normal, cenderung berlanjut menjadi gagal ginjal terminal yang diawali dari terjadinya gagal ginjal kronik (Cancer Institute,2009)
GGA adalah penurunan fungsi ginjal mendadak dengan akibat hilangnya kemampuan ginjal untuk mempertahankan homeostatis tubuh. Gagal ginjal akut juga merupakan suatu sindrom yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal mendadak dengan akibat terjadinya penimbunan hasil metabolik penseyawaan nitrogen seperti ureum dan kreatinin. Dalam diagnosis GGA yaitu terjadinya peningkatan kadar kreatinin darah secara progesif 0,5 mg/dl per hari. Peningkatan kadar ureum darah adalah sekitar 10-20 mg/dl per hari kecuali bila terjadi hiperkatabolisme dapat mencapai 100 mg/dl per hari (Andani, 2010).

Prevalensi menurut (WHO) memperkirakan bahwa prevalensi gagal ginjal akut lebih dari 356 orang yang mengalami GGA, mortalitas lebih tinggi pada pasien lanjut usia dan pada pasien dengan kegagalan multiorgan. Di Indonesia kebayakan pasien yang melewati episode GGA dapat sembuh dengan fungsi ginjal semula dan dapat melanjutkan hidup seperti biasanya. Namun , 50% kasus memiliki gangguan fungsi ginjal subklinis atau dapat di temukan bekas luka residual pada biopsy ginjal. Sekitar 5% pasien tidak pernah kembali fungsi ginjalnya dan membutuhkan fungsi ginjal jangka panjang dengan dialysis atau transplantasi. Sebagai tambahan 5% kasus mengalami penurunan GFR progressif, setelah melalui fase awal peyembuhan, kemungkinan akibat stress hemodynamic dan scleroris glomeruli yang tersisa (Elfriadi, 2011).
Peneliti mengungkapkan sebanyak 15% dari populasi penduduk Indonesia yang mengalami gagal ginjal. Dari angka 15% itu banyak penderita yang mengalami gagal ginjal akut diprediksi mencapai 1,2% dari total populasi penderita gagal ginjal di Indonesia yaitu sekitar 104 ribu orang (Suhardjono,2008). Setelah suatu trauma, atau yang lebih jarang, adanya embolisasi Kristal kolesterol pada pembuluh darah ginjal (Atheroembolic GGA). Kristal kolesterol tersembut didalam lumen arteri berukuran kecil atau sedang. Kemudian memicu reaksi sel giant dan reaksi fibrosis didalam dinding pembuluh darah. Atheroembolic GGA biasanya ireversibel (Elfriadi,2011).
Bedasarkan hasil survey data rekam medic di rumah sakit umum Dr.R.M. Djoelham Binjai bahwa terjadi peningkatan persentase penderita gagal ginjal akut di Poli Rawan Jalan dari tahun 2008 sampai 2011 yakni sebesar 10%.
Faktor penyebab secara umum terjadi oleh karena kurangnya pengetahuan tentang gagal ginjal akut (GGA) sehingga perawatan pada pasien gagal ginjal sering mengalami kegagalan terutama pengetahuan keluarga tentang cara perawatan pasien yang mengalami GGA (Elfriadi,2011).
Gagal ginjal akut terjadi ketika ginjal tiba-tiba tidak mampu untuk menyaring kotoran dari darah. Gagal ginjal akut dapat terjadi apabila ada kerusakan pada ginjal anda atau kondisi lain yang menyebabkan aliran darah mengalir lambat menuju ginjal. Gagal ginjal akut juga dapat terjadi apabila kotoran yang telah tersaring tidak keluar dari tubuh bersamaan dengan urin.
Melambatnya aliran darah keginjal kondisi yang menyebabkan darah yang menuju ginjal mengalir secara lambatdan menyebabkan gagal ginjal antara lain: Kurang darah pengobatan terhadap tekanan darah serangan jantung penyakit jantung infeksi kerusakan hati nonsteroidal anti-inflammatory drugs.
Dampak dari gagal ginjal akut berbagai masalah keperawatan yaitu: pernurunan aliran darah ginjal. Efek merugikan dari perfusi ginjal pada fungsi ginjal sangat jelas. Karena aliran darah ginjal dalam jumlah yang besar dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi normal ginjal, maka perubahan komposisi urine terjadi lebih dini bila perfusi ginjal menurun. Bila aliran darah ginjal sangat terganggu sebagai akibat baik penurunan volume darah efektif, turunnya curah jantung atau penurunan tekanan darah dibawah 80 mmHg terjadi perubahan karakteristik yang jelas terjadi pada fungsi ginjal. Kapasitas untuk otoregulasi sempurna terampau. Laju filtrasi glomerulus (CFG) menurun. Jumlah cairan tubuler menurun, dan cairan mengalir (Elfriadi,2011).
Gagal ginjal akut sering tidak mungkin untuk diperkirakan atau dicegah. Tapi anda dapat mengurangi risiko dengan menjaga kesehatan ginjal. Ikuti petunjuk pada kemasan obat. Jika anda menggunakan obat tanpa resep yang dijual bebas. Ikuti petunjuk yang ada pada kemasannya. Menggunakan obat dengan dosis yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risikogagalginjalakut. Ikuti petunjuk dokter. Jika anda memiliki penyakit ginjal atau kondisi lain yang meningkatkan risiko gagal ginjal akut, ikuti rekomendasi dokter anda untuk mengontrol kondisi tersebut. Lakukan teknik pernapasan dengan diagfragma untuk membuat anda lebih tenang. Ketika anda menghirup napas, biarkan perut anda mengembang. Dan ketika anda membuang napas makan perut anda secara alami akan berkontraksi. Teknik bernapas seperti ini juga dapat membantu menenangkan otot bagian perut dan dapat memicu membuat aktifitas berjalan normal. Mendengarkan musik, membaca, bermain game atau mandi akan membuat anda rileks.
Dengan demikian sangat dibutuhkan perawatan pasien gagal ginjal akut di poli rawan jalan, sehingga peneliti ingin mengetahui ”Gambaran pengetahuan keluarga tentang  perawatan pasien gagal ginjal akut di poli rawan jalan RSUD Dr.R.M. Djoelham Binjai”.

1.2.                 Idenfikasi Masalah
1.2.1.            Bagaimana gambaran pengetahuan keluarga tentang perawatan gagal ginjal akut?
1.2.2.            Bagaimana factor penyebab terjadinya gagal ginjal akut?
1.2.3.            Bagaimana dampak yang diakibatkan dari gagal ginjal akut (GGA)?
1.2.4.            Bagaimana solusi lain menangani gagal ginjal akut (GGA)?

1.3.                  Pembatasan Masalah
Bagaimana gambaran pengetahuan keluarga tentang perawatan gagal ginjal akut?

1.4.         Rumusan Masalah
Bagaimana Gambaran pengetahuan keluarga pada perawatan pasien Gagal Ginjal Akut di Poli Rawan Jalan RSUD. Dr.R.M. Djoelham Binjai.

1.5.          Tujuan Peneliti
               Untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga pada perawatan pasien gagal ginjal akut di RSUD Dr.R.M. Djoelham Binjai.




1.6.                 Manfaat Penelitian
1.6.1.            Institusi Pendidikan Keperawatan
Sebagai bahan acuan di pendidikan khususnya kepada mahasiswa/I keperawatan untuk meningkatkan pengetahuan cara perawatan pasien dengan gangguan system perkemihan gagal ginjal akut.
1.6.2.            RSUD Dr.R.M. Djoelham Binjai
Sebagai bahan pembelajaran kepada petugas pelayanan kesehatan khususnya di bidang keperawatan dalam memperaktekkan teknik perawatan yang baik dan benar pada penderita dengan gagal ginjal akut.
1.6.3.            Keluarga dan Pasien Rumah Sakit
Untuk menambah informasi dan sumber pengetahuan baik terhadap pasien maupun keluarga tentang perawatan gagal ginjal akut selama masa rawatan dirumah sakit.
1.6.4.            Peneliti Selanjutnya
Sebagai bahan refrensi untuk penelitian selanjutnya tentang perawatan di Poli Rawan Jalan pada pasien gagal ginjal akut.




BAB II
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA KONSEP

2.1.            Kajian Teori
2.1.1.         Konsep Pengetahuan
                  A.  Pengertian Pengetahuan
                            Pengertian adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya) (Notoatmojo,2010).
          Pengetahuan adalah semua milik atau isi pikiran dan merupakan hasil proses usaha manusia untuk tahu (Gazalbah, 2011).
          Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental. Tiap jenis pengetahuan pada dasarnya menjawab jenis pertanyaan tertentu yang diajukan (Katika, 2011).
B.  Tingkat Pengetahuan
1.   Tahu (Know)
      Tahu diartikan hanya sebagai recal (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Misalnya tahu bahwa buah tomat banyak mengandung vitamin C, jamban adalah tempat membuang air besar, dan lain-lain.
2.      Memahami (Comprehension)
7
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak dapat sekedar menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut. Misalnya orang yang memahami cara pemberantasan penyakit demam berdarah, bukan hanya sekedar menyebutkan 3M (mengubur, menguras dan menutup) tetapi harus dapat menjelaskan mengapa harus menutup, menguras dan mengubur tempat-tempat penampungan air tersebut.
3.      Aplikasih (Application)
Aplikasih diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang di maksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain. Misalnya seseorang yang telah paham tentang proses perencanaan, ia harus dapat membuat perencanaan program kesehatan ditempat dia bekerja atau dimana saja. Orang yang telah paham metodologi penelitian, ia akan mudah membuat proposal penelitian dimana saja, dan sebagainya.
4.      Analisis (Analysis)
Analisis ialah kemampuan seseorang untuk menjabarkan atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang di ketahui. Misalnya dapat membedakan antara nyamuk aedes aegypti dengan nyamuk biasa, dapat membuat diagram siklus hidup cacing kremi, dan lain-lain.


5.      Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang di miliki. Dengan kata lain, sitesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada. Misalnya dapat membuat atau meringkas dengan kata-kata atau kalimat sendiri tentang hal yang telah dibaca atau didengar, dapat membuat kesimpulan tentang artikel yang telah dibaca.
6.            Evaluasi (Evalution)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilean terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu criteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Misalnya seseorang anak menderita malnutrisi atau tidak, seseorang dapat menilai manfaat ikut keluarga berencana dan sebagainya (Notoatmojo,2010).
C.     Indikator Pengetahuan
  1.     Pengetahuan tentang sakit dan penyakit, yang meliputi, penyebab penyakit, gejala dan tanda-tanda penyakit, bagaimana cara pengobatan atau kemana mencari pengobatan, bagaimana cara penularannya, bagaimana cara pencegahannya termasuk imunisasi dan sebagainya.
2.      Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat, yang meliputi: jenis-jenis makanan bergizi, manfaat makanan yang bergizi bagi kesehatan, pentingnya olahraga bagi kesehatan, penyakit-penyakit atau bahaya merokok, minum-minuman keras, narkoba dan pentingnya istirahat yang cukup, relaksasi, dan sebagainya bagi kesehatan.
3.      Pengetahuan tentang memelihara kesehatan lingkungan tentang manfaat air bersih, cara-cara pembungan air limbah yang sehat, termasuk pembungan kotoran yang sehat dan sampah, manfaat pencahayaan dan penerangan rumah yang sehat, manfaat ventilasi rumah yang sehat dan akibat polusi bagi kesehatan (Notoatmojo,2010).

2.1.2.        Konsep Keluarga
                 A.    Defenisi Keluarga
                                Keluarga adalah bagian dari masyarakat, yang merupakan kelompok primer yang diikat suatu pernikahan, menyelenggarakan hal-hal berkenaan dengan kehidupan berumah tangga dan pemeliharaan anak  (Syafrudin, 2009).
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang menjadi penerima asuhan keperawatan (Effendi dan Makhfudli, 2009).
Keluarga merupakan system yang terbuka sehingga dapat dipengaruhi oleh supra system yaitu lingkungan (Mubarak, 2006)
B.    Struktur Keluarga
1.     Partilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara, sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.
2.     Martilineal
        Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudarah sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
3.     Matrilokal
        Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri (Syafrudin, 2009).
C.    Peran Dan Serta Keluarga
     1. Peran ayah               :Mencari nafkah, pendidikan, perlindungan, dan      kepala keluarga.
     2. Peran ibu                  :Mengurus rumah tangga, mendidik anak, pelindung, membantu mencari nafkah tambahan keuangan.
  3. Peran anak           :Melaksanakan psiko social sesuai tingkat perkembangan baik fisik mental maupun social (Syafrudin,2009).


D.  Fungsi Keluarga
1.   Fungsi Biologis
      Fungsi dari ayah dan ibu, meneruskan keturunan, memelihara dan membesarkan anak, memenuhi kebutuhan gizi, dan memelihara dan merawat kesehatan.
2.   Fungsi Psikologis
      Bukan dari ayah dan ibu saja, memberikan kasih sayang dan rasa aman, memberikan perhatian anggota keluarga, membina proses pendewasaan anggota keluarga, memberikan identitas yang baik.
3.   Fungsi Sosiologis
      Memberikan sosialisasi pada anak dalam interaksi sosial diantara anggota keluarga. Membentuk norma dan tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Meneruskan nilai budaya keluarga.
4.   Fungsi Pendidikan
      Menyekolahkan anak untuk memberikan pendidikan, pengetahuan ketrampilan, membentuk perilaku sesuai dengan bakat dan niat. Mempersiapkan anak untuk kehidupan akan dating. Mendidik anak tingkat perkembangan anak.
5.   Fungsi Ekonomi
Mencari sumber penghasilan kebutuhan keluarga. Mengatur penggunaan keuangan. Menabung untuk kebutuhan keluarga.


1.      Fungsi Rekreasi
Memberikan kesempatan pada anak untuk mengetahui hal-hal yang baru.
2.   Fungsi Religi
      Menanamkan rasa keagamaan terhadap anak. Membiasakan anak mengamalkan ajaran agama sejak kecil.
E.   Bentuk-bentuk keluarga
1)   Nucler family adalah keluarga inti terdiri dari ayah, ibu, dan anak.
2)   Extended family adalah keluarga besar terdiri dari ayah, ibu, dan anak ditambah kakek dan nenek.
3)   Serial family adalah keluarga berantai
4)   Single family adalah keluarga duda dan janda
5)      Composite family adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami (Syafrudin, 2009).
2.1.3.        Gagal ginjal akut
A.  Pengertian gagal ginjal akut
             Gagal ginjal akut merupakan klinis akibat kerusakan metabolitik patologik pada ginjal yang ditandai dengan penurunan fungsi yang nyata dan cepat serta terjadinya azotemia. Gagal ginjal akut biasanya disertai oliguria tetapi oliguria tidak merupakan gejala klinis, secara klinis istilah nerkosis tubulous akut sering dipakai. (Arifwr,2009).
       GGA adalah penurunan fungsi ginjal mendadak dengan akibat hilangya kemampuan ginjal untuk mempertahankan homeostatis tubuh. (Andani, 2010)
      Gagal ginjal akut (GGA) merupakan suatu sindro, yang ditandai oleh adanya penurunan drastic pada glomeruler filtration rate (jam sampai hari), retensi limbah metabolism nitrogen, dan gangguan volume ekstraseluler dan homeostatis asam-basa. (Elfriadi, 2011)
B. Klasifikasih dan Etiologi GGA
      Klasifikasi GGA sekarang ini berdasarkan lokasi yang menunjukkan abnormalitas yaitu:
a)         Pra Renal yang disebabkan oleh sebab sistemik seperti dehidrasi berat, pendarahan masif, dimana keadaan ini sangat menurunkan aliran darah ke ginjal dan tekanan perfusi kapiler glomelurus yang mengakibatkan penurunan laju filtrasi glomelurus (GFR).
b)         GGA renal atau intrisik, terjadi apabila ada jejak pada parenkim ginjal sebagai contoh; glomuluronefritis, dan nekrosis tubular akut.
c)         GGA pasca renal disebabkan oleh neuropati obstruktif
C.  Tanda gejala gagal ginjal akut
      Berikut beberapa tanda atau gejala yang dialami oleh penderita penyakit gagal ginjal akut: produksi urine menurun, merasa lelah dan gelisah, mual-muntah, penurunan jumlah urine, pingsan dan koma.


D. Klafikasih dari penyebab GGA ( Gagal Ginjal Akut)
1.   GGA prarenal disebabkan oleh: hipovolemia, penurunan cardiac output, gangguan rasio tahanan vascular sistemik ginjal, hipoperfusi ginjal, dengan gangguan respon autoregulasi ginjal, sindrom hipervisikositas.
2. GGA renal disebabkan oleh: obstruksi renovaskuler, penyakit glomerulus, nekrosis tubular akut, nefritis interstisial, penolakan cangkok ginjal.
3.GGA pascarenal disebabkan oleh: Ureteral kalkusus, bekuan darah, peluruhan papilla, kanker, kompresi eksternal
a)   Kandung kemih neurogenik bladder, hipertrofi prostat, kalkulus, kanker, bekuan darah
b)   Uretra striktur, katup konginetal, phimosis (Arifwr,2009).
E.   Patogenesis dan Patofisiologi
1.   GGA Prarenal
      Karena berbagai sebab diatas volume sirkulasi darah akan menurun, curah jantung menurun, dengan akibat darah ke kortek ginjal juga menurun, dan laju filtrasi glomelurus menurun, akan tetapi fungsi reabsorbsi tubulus terhadap air dan garam terus berlangsung. Oleh karena itu pada GGA prarenal akan di temukan hasil pemeriksaan osmolaritas urin >300 mOsm/kg dan konsentrasi natrium yang rendah <20mmol/liter. Serta fraksi ekskresi natrium (<1%). Sebaiknya pada GGA renal akan terjadi berkebalikan karena reabsorbsi tubulus tidak berfungsi lagi.
Mekanisme terjadi hipoperfusi pada ginjal. Peningkatan pelepasan rennin dari aparatusjukstaglomerulus menyebabkan peningkatan aldosteron, dimana terjadi peningkatan reabsorbsi di tubulus kolektivus. Penurunan volume cairan ekstrasel juga akan mengakibatkan pelepasan hormone ADH yang akan berakibat pada peningkatan absorbs air di medulla dan hasil akhirnya adalah penurunan volume urin dan penurunan kadar natrium urin.
2.   GGA Renal
      Bedasarkan etiologi penyakit, penyebab GGA renal dapat dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu kelainan vaskuler, glomerulus, tubulus, interstisal, dan anomaly konginental . Tubulus ginjal karena merupakan tempat utama penggunaan energi pada ginjal, mudah mengalami kerusakan bila terjadi iskemia atau karena obat nefrotoksi oleh karena itu kelainan tubulus akut adalah penyebab tersering dari GGA renal.
Kelainan Tubulus
Bentuk nekrosis tubulus ada dua yaitu:
a)      Akibat zat nefrotoksi misalnya, merkuriklorida, terjadi kerusakan tubulus sel-sel yang luas tapi membrane basal tubulus tetap utuh. Sel-sel tubulis yang mengalami nekrosis akan masuk ke lumen tubulus dan akan menyumbat lumen.
b)      Akibat iskemia, kerusakan lebih distal dan setempat dengan kerusakan local pada membran basal tubulus. Obstruksi tubulus oleh sel dan jaringan yang rusak dan pembesaran pasif filtrate tubulus melalui dinding tubulus yang rusak masuk ke jaringan interstisial.
Kelainan Vaskuler
Kebanyakan kelainan vaskuler ditemukan pada pasien dengan sindrom hemolitik uremik (SHU). Pada SHU terjadi kerusakan kapiler glomelurus, biasanya meyertai dari gastroenteristis yang mana Escherichia coli menyebarkan toksin yang disebut virotoksin yang diabsorbsi di urus dan mengakibatkan kerusakan endotel, pada SHU terjadi kerusakan endotel pada glomerulus yang mengakibatkan deposisi thrombus trombosit fibrin selanjutnya terjadi konsumsi trombosit, kerusakan sel darah merah eritrosit melalui jarring-jaring fibril dan politerasi kapiler glomelurus yang bias mengakibatkan mikroangiopati.
3.   GGA Pasca Renal
      Hambatan aliran urin dapat terjadi pada berbagai tingkat dari pelvis renalis hingga uretra dan dapt merupakan manifestasi dari malformasi konginental, obstruksi intrinsik dari traktus urinarius dan neurogenik bladder. GGA pasca renal terjadi ketika obstruksi melibatkan kedua ginjal atau satu ginjal pada orang satu ginjal.
F.   Manifestasi Klini
      Pucat (anemia), penurunan curah urin, edema (garam dan air berlebihan), hepertensi.
G.  Komplikasih GGA
      Kelebihan beban volume dengan gagal jantung kongestif dan edema paru, eritmia, perdarahan saluran cerna yang disebabkan oleh gastritis, kejang-kejang, koma, dan perubahan prilaku (Andian,2011).

2.1.4.   Perawatan Pasien Gagal Ginjal
  A. Defenisi
              Perawatan adalah sebuah proses yang berhubungan dengan pencegahan dan manajemen penyakit dan juga proses stabilisasi mental, fisik, dan rohani melalui pelayanan yang ditawarkan oleh organisasi, institusi, dan unit professional kedokteran (Adnan,2009).
            Pengetahuan keluarga tentang kesehatan lingkungan meliputi disini akibat yang ditimbulkan oleh paparan asap rokok bagi kesehatan pasien gagal ginjal kronis (Muhammad, 2012).
            Pengetahuan keluarga tentang pemeliharaan kesehatan meliputi bahaya makanan berlemak  bagi  penderita gagal ginjal kronis, pentingnya olahraga bagi penderita gagal ginjal akut, bahaya merokok dan minuman keras bagi pasien gagal ginjal akut dan mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang serta menjaga berat badan ideal merupakan cara hidup yang sehat bagi  pasien gagal ginjal akut (Muhammad, 2012).
Tujuan pengobatan pada tahap ini adalah untuk meredakan atau memperlambat gangguan fungsi ginjal progresif.

Pembatasan protein bukan hanya mengurangi kadar BUN, tetapi juga mengurangi asupan kalium dan fosfat, serta mengurangi produksi ion hidrogen yang berasal dari protein. Pembatasan asupan protein telah terbukti menormalkan kembali kelainan ini dan memperlambat terjadinya gagal ginjal. Jumlah kebutuhan protein biasanya dilonggarkan sampai 60 – 80 g/hari, apabila penderita mendapatkan pengobatan dialisis teratur.

2.2        Kerangka Konsep
            Kerangka konsep adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu dengan konsep lainnya dari masalah yang diteliti. Kerangka konsep ini berguna untuk menghubungkan atau menjelaskan secara panjang lebar tentang suatu topic yang akan dibahasn (Setiadi, 2007).
Kriteria Perawatan GGA
1.      Baik
2.      Cukup
3.      Kurang
(Setiadi,2007)
Kerangka konsep dalam penelitian ini yang berjudul Gambaran Pengetahuan Keluarga tentang Perawatan Pasien Gagal Ginjal Akut di Poli Rawan Jalan RSUD Dr.R.M. Djoelham Binjai” bertujuan untuk mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang perawatan pasien gagal ginjal akut di poli rawan jalan RSUD Dr.R.M Djoelham Binjai, yaitu:
Pengetahuan Keluarga Tentang Perawatan GGA
1.      Pengetahuan tentang sakit dan penyakit
2.      Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat
3.      Pengetahuan tentang memelihara kesehatan lingkungan (Notoadmodjo, 2010)

Keterangan:
                                    : Variabel yang di teliti
                                    : Hubungan Variabel
                                        
Gambar     2.1. Kerangka Konsep Peneliti


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1         Jenis Penelitian
Penelitian dalam studi ini mengunakan metode penelitian deskriptif yang bertujuan untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan secara objektif, tentang pengetahuan keluarga dalam perawatan pasien GGA. (Setiadi,2007).

3.2         Waktu dan Tempat Penelitian
3.2.1        Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2012.
3.2.2        Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di RSUD Dr.R.M Djoelham, alasan peneliti melakukan penelitian di lokasi ini oleh karena data tentang GGA banyak di temukan.

3.3              Populasi, Sampel dan Sampling
3.3.1        Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek peneliti yang akan diteliti. (Setiadi,2007). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh keluarga yang dating memeriksa anggota keluarga yang mengalami sakit GGA ke RSUD. Dr. R.M. Djoelham Binjai.



3.3.2     Sampel
Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluru populasi, incidental sampling dengan cara pengambilan sampel yang kebetulan ada, pada saat penelitian dan bersedia menjadi sampel, besar sampel yang diambil yaitu sebesar 24 orang penyakit GGA. (Setiadi,2007).

3.4   Tehnik Pengumpulan Data
               Sebelum proses pengumpulan data dilakukan, tahap awal dalam pengumpulan data adalah melakukan persiapan untuk kelancaran pelaksanaan penelitian berupa surat izin penelitian dan kepala RSUD. Dr. R.M. Djoelham Binjai. Selanjutnya peneliti melakukan penjajakan dimana peneliti ini dilakukan. Selama proses penjajakan ini peneliti melakukan pendekatan kepada responden guna menjelaskan makna dan guna diberlakukannya informed consent. Peneliti wajib menjelaskan kepada responden bahwa penelitian yang dilakukan tidak akan berdampak negative pada fisik dan mental responden dan kerasiaan responden sangat dijaga. Setelah persyaratan dipenuhi selanjutnya dilakukan proses pengambilan data dengan memberikan uji test untuk menggali informasi tentang “Gambaran Pengetahuan Keluarga Pada Perawatan Gagal Ginjal Akut diruangan poli rawat jalan RSUD.Dr. R.M Djoelham Binjai. Apabila respondet mengerti peneliti kembali mengumpulkan lembar kuesioner dan memeriksa kelengkapan kuesioner dan apabila ada yang kurang lengkap, peneliti dapat menyelesaikannya secepatnya. Jumlah pertanyaan pada uji test sebanyak 15 pertanyaan. Teknik pengumpulan data ada 2 macam yaitu:
a)      Data Primer
Data yang diperoleh dari usaha peneliti itu sendri misalnya surve yang dilakukan di pukesmas atau data yang diperoleh dari tempat yang diteliti.
b)      Data sekunder
Data yang diperoleh dari literature-literatur, misalnya seperti buku ataupun media cetak lainnya (Setiadi, 2007).
c)      Data tersier
Data yang diperoleh dari jurnal penelitian terdahulu.

3.5       Variabel dan Definisi Operasional
3.5.1        Variabel
            Variabel pada penelitian ini adalah pengetahuan yang diukur melalui indicator yaitu: pengetahuan tentang sakit dan penyakit, pengetahuan tentang kesehatan lingkungan, pengetahuan tentang kesehatan lingkungan.
3.5.2        Defenisi Operasional
1.      Sakit dan Penyakit
Adalah suatu keadaan adanya gangguan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan fisik, psikologik dan sosial secara tepat. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit meliputi penyebab penyakit, tanda dan gejala, dan cara pengobatan penyakit gagal ginjal akut.
2.      Pemeliharaan Kesehatan dan Cara Hidup Sehat
Adalah upaya pelayanan kesehatan yang bersifat peningkatan kesehatan, pencegahan, pengobatan dan pemulihan kesehatan dengan melibatkan secara aktif anggota keluarga. Pengetahuan keluarga tentang pemeliharaan kesehatan meliputi bahaya makanan berlemak  bagi kesehatan, pentingnya olahraga bagi kesehatan, bahaya merokok dan minuman keras bagi pasien gagal ginjal akut dan mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang serta menjaga berat badan ideal merupakan cara hidup yang sehat bagi pasien gagal ginjal akut.
3.   Kesehatan Lingkungan
Adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dengan lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia. Pengetahuan keluarga tentang kesehatan lingkungan meliputi disini akibat yang ditimbulkan oleh asap rokok bagi kesehatan pasien gagal ginjal kronis  (As’adi, 2012).

3.6     Tehnik Pengukuran
Tehnik pengukuran pada setiap variabel adalah dengan mengajukan 15 butir pernyataan yaitu 5 pernyataan untuk tentang sakit penyakit, 5 peryataan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat , 5 pernyataan untuk Kesehatan Lingkungan dalam bentuk koesioner kepada responden dan menggunakan skala guttman yaitu apabila jawaban responden bernilai benar bernilai 1 sedangkan jawaban salah diberi nilai 0 dengan menggunakan rumus surgers (Sudjana,2009).
               Range              15 – 0             15
I  =                            =                   =                =  5
                K                       3                   3
                                                       
Keterangan:
I                 : Interval
K               : Kategori (Jumlah)
      Range         : Skor Maxsimal - Skor Minimal
Sedangkan untuk mengetahui persentasi jawaban responden sesuai dengan kriteria responden dengan rumus determinan yang dikemukan oleh ircham (2009) sebagai berikut :
              F  
P =             x 100%
              N

Keterangan :
P = Presentase
F = Jumlah Jawaban Yang Benar
N = Jumlah Soal
Sehingga kriteria jawaban responden dapat disimpulkan melalui skor dan presentasi jawaban sebagai berikut:




Tabel 3.1 Interval Kategori Pengetahuan
No
Kategori
Skor Jawaban
Persentase
1
Baik
11-15
80-100%
2
Cukup
6-10
40-60%
3
Kurang
0-5
0-20%



3.7   Tehnik Analisa Data
Rancangan analisa data hasil penelitian diformulasikan dengan menempuh langkah-langkah yang dimulai dari :
1.      Editing
Adalah memeriksa daftar pernyataan yang telah diserahkan oleh para pengumpul data. Pemeriksaan  daftar pernyataan yang telah selesai ini dilakukan terhadap kelengkapan jawaban, keterbacaan tulisan dan relevansi jawaban.
2.         Coding
Mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari para responden kedalam kategori. Biasanya klasifikasi dilakukan dengan cara memberi tanda / kode berbentuk angka pada masing-masing jawaban.
3.         Sorting
Adalah mensortir dengan memilih atau mengelompokkan data menurut jenis yang dikehendaki.
4.         Entry Data
Jawaban-jawaban yang sudah diberi kode kategori kemudian dimasukkan kedalam bentuk tabel dengan cara menghitung frekuensi data. Memasukkan data boleh dengan cara manual atau melalui pengolahan komputer.
5.         Cleaning
Adalah tahap memastikan bahwa seluruh data yang telah dimasukkan kedalam pengolahan data sudah selesai dengan sebenarnya.(Setiadi, 2007)


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1.      Hasil Penelitian
            Setelah dilakukan penelitian dengan judul “Gambaran Pengetahuan Keluarga tentang Perawatan Gagal Ginjal Akut di ruang Poli Rawan Jalan RSUD. Dr. R.M. Djoelham Binjai” Periode Mei-Juli 2012 dan hasilnya di sajikan pada tabel berikut:

4.1.1.   Data Umum
Tabel 4.1.  Distribusi Karakteristik Responden berdasarkan Umur Di ruang Poli Rawan Jalan RSUD.Dr.R.M Djoelham Binjai Pada Bulan Mei s/d Juli 2012
No
Umur (Tahun)
Frekuensi (f)
Persentasi (%)
1
20-29
6
25
2
30-39
8
33,3
3
40-49
6
25
4
>50
4
16,7
Total
24
100

Berdasarkan  tabel 4.1 diatas dapat disimpulkan bahwa karakteristik responden berdasarkan umur mayoritas berusia 30-39  tahun sebanyak 8 orang (33,3 %) dan minoritas berusia >50 tahun sebanyak 4 orang (16,7 %).

Tabel 4.2 Distribusi Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan Di Ruang Poli Rawan Jalan RSUD Dr.R.M Djoelham Pada Bulan Mei s/d Juli 2012.
No
Pendidikan
Frekuensi (f)
Persentasi (%)
1
SD
 3
12,5
2
SMP
9
37,5
3
SMA
7
29,7
4
PT
5
20,3
Total
24
100

Berdasarkan  tabel 4.2. diatas dapat disimpulkan bahwa karakteristik responden berdasarkan Pendidikan mayoritas berpendidikan SMP sebanyak 9 orang (37,5%) dan minoritas berpendidikan SD sebanyak 3 orang (12,5%).
Tabel 4.3 Distribusi Karakteristik Responden berdasarkan Pekerjaan Di Ruangan Poli Rawan Jalan RSUD Dr.R.M Djoelham Binjai Pada Bulan Mei s/d Juli 2012
No
Bedasarkan Pekerjaan
Frekuensi (f)
Persentasi (%)
1
Wiraswasta
16
66,7
2
Pedagang
3
12,5
3
Petani
5
20,8
Total
24
100
Berdasarkan  tabel 4.3. diatas dapat disimpulkan bahwa karakteristik responden berdasarkan Pekerjaan mayoritas dari Wiraswasta sebanyak 16 orang (66,7%) dan minoritas dari Pedagang sebanyak 3 orang (12,5%).

4.1.2.      Data Khusus
Tabel 4.4.        Distribusi Pengetahuan Keluarga tentang Perawatan Gagal Ginjal Akut di Ruang RSUD Dr.R.M Djoelham Binjai Periode Mei s/d Juli 2012 .
No
Sakit dan Penyakit
Frekuensi
%
1
Baik
6
25
2
Cukup
15
62,5
3
Kurang
3
12,5
Total
24
100

Dari tabel 4.4. Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa Pengetahuan Keluarga mayoritas responden berpengetahuan cukup sebanyak 15 orang (62,5%), dan minoritas responden berpengetahuan kurang sebanyak 3 orang (12,5%).


4.2.     Pembahasan
                        Setelah peneliti melakukan penelitian dengan melakukan pengumpulan data, diantaranya menggunakan data primer, dimana data dalam hasil penelitian ini diperoleh dari hasil pengukuran, pengamatan, dan survei secara langsung dari lapangan penelitian. Dan pengumpulan data sekunder dilakukan melalui studi dokumentasi. Serta melakukan teknik analisa data mulai dari editing (memeriksa), coding (memberi tanda/kode), sortir, entry data, cleaning. Maka penulis akan membahas Gambaran Pengetahuan Keluarga tentang Perawatan Gagal Ginjal Akut di ruang Poli Rawan Jalan RSUD Dr.R.M Djoelham serta kesenjangan antara teori dengan hasil yang didapatkan peneliti di lapangan.
           Dari hasil penelitian berdasarkan mayoritas responden berpengetahuan cukup sebanyak 15 orang (62,5%), dan minoritas responden berpengetahuan kurang sebanyak 3 orang (12,5%). Hal itu disebabkan oleh karena keluarga tidak berusaha mencari informasi tentang cara perawatan GGA , dan rata – rata pendidikan keluarga masih kategori rendah.
          Hal ini sesuai dengan teori Notoadmodjo (2007) yaitu bahwa pengetahuan itu merupakan hasil tahu seseorang setelah melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain penting dalam pembentukan perilaku. Adapun factor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah, factor usia, budaya, ekonomi, factor media masa, factor pendidikan,, factor pengalaman, dan lingkungan
( Meliono, 2007).

BAB V
PENUTUP

5.1.      Kesimpulan
            Setelah peneliti melakukan penelitian tentang “Gambaran Pengetahuan Keluarga tentang Perawatan Gagal Ginjal Akut di ruang Poli Rawan Jalan RSUD Dr.R.M Djoelham ”, peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa Dari hasil penelitian berdasarkan mayoritas responden berpengetahuan cukup sebanyak 15 orang (62,5%), dan minoritas responden berpengetahuan kurang sebanyak 3 orang (12,5%). Hal itu disebabkan oleh karena keluarga tidak berusaha mencari informasi tentang cara perawatan GGA , dan rata – rata pemdidikan keluarga masih kategori rendah.

5.2.      Saran
5.2.1.      Institusi Pendidikan Keperawatan
Hendaknya institusi pendidikan keperawatan memberikan motivasi kepada mahasiswa/i agar dapat mengembangkan materi-materi yang diberikan dan bisa mengaplikasikannya di lapangan, khususnya tentang penyakit gagal ginjal akut. Sehingga mahasiwa/i nantinya bisa menjadi tenaga perawat yang profesional.


5.2.2.      Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan agar lebih mengutamakan penyuluhan-penyuluhan kesehatan tentang penyakit gagal ginjal akut kepada keluarga maupun klien  sehingga pengetahuan keluarga dan klien pun bertambah.
5.2.3.      Responden
Diharapkan kepada responden dalam hal ini keluarga pasien gagal ginjal akut agar dapat meningkatkan pengetahuannya tentang penyakit gagal ginjal akut mulai dari penyebab, tanda dan gejala, dan pencegahannya dan pengetahuan tentang  kesehatan lingkungan agar dapat terjalin kerjasama antar keluarga pasien dan tenaga kesehatan.
5.2.4.      Peneliti Selanjutnya
Diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk dapat melakukan penelitian yang lebih mendalam lagi yang berhubungan dengan pengetahuan keluarga tentang perawatan gagal ginjal akut.